Ritual Mandi Safar


Ritual Mandi Safar tetap terjaga dan menjadi aset budaya daerah serta nasional. Berdasarkan catatan yang ada, prosesi Mandi Safar ini adalah tradisi warisan nenek moyang yang berasal dari Bugis.

Bagi sejumlah warga, mandi Safar ini merupakan ritual untuk meminta kepada Sang Kuasa agar terhindar dari bahaya, penyakit dan mensucikan diri dari dosa dengan menceburkan diri ke laut.

Masyarakat yang akan mengikuti prosesi mandi Safar, sebelum menceburkan diri ke laut, telah membekali diri dengan daun Sawang yang diikat di kepala atau di pinggang.

Daun Sawang tersebut sebelumnya diberikan doa atau rajah oleh sesepuh atau alim ulama setempat.

Menurut kepercayaan, pemakaian Daun Sawang itu agar orang yang mandi terjaga keselamatannya dari segala gangguan baik dari gangguan binatang maupun makhluk halus.

Untuk di Tanjabtim, ritual Mandi Safar dipusatkan di Desa Air Hitam Laut Kecamatan Sadu, merupakan deerah yang memiliki potensi besar akan objek wisata alam maupun budaya.

Desa Air Hitam Laut juga merupakan salah satu pintu masuk kawasan Taman Nasional Berbak (TNB) yang memiliki potensi ekowisata dengan berbagai jenis flora dan fauna.

Selain itu, Desa Air Hitam laut juga sangat dekat dengan pantai Cemara yang memiliki pantai pasir putih dengan hutan cemara laut yang spesifik.

Pantai itu memiliki panjang sekitar 20 kilometer dan lebar antara 20-30 meter dengan kedalaman kurang dari lima meter. Saat ombak tenang, pantai atau laut di pulau itu sangat cocok untuk sarana olahraga pantai seperti selancar atau memancing.




Untuk menikmati Ritual Budaya Mandi Safar wisatawan dapat mengunjungi Kecamatan Sadu Desa Air Hitam Laut.

Dari Kota Jambi menggunakan:

Jalur Darat (Mobil/Motor) : 4 Jam

Jalur Sungai (Speed Boat): 8 Jam

-

-


Aneka Budaya Kab. Tanjung Jabung Timur
(10 Foto)